Genre : Fiction and Literature
Author : Fredrik Backman
Butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikan buku ini. Karena awalnya, gw sangka buku ini bakalan selucu The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared, tapi gw salah. Lalu, mendapati bahwa buku ini intinya adalah kisah cinta, gw agak kecewa, karena gw kira akan mendapatkan kisah cinta biasa. Lagi-lagi gw salah.
Ove ini agak mirip karakternya sama Opa Carl Fredricksen di film Up. Penggerutu, pencinta keteraturan, pembenci kemajuan dan mencintai satu perempuan sepanjang hidupnya. Begitu kehilangan sang belahan jiwa, mereka berhenti hidup. Begitulah Ove. Saat kehilangan sang istri, Sonja, karena kanker, Ove merasa tidak ada gunanya dia hidup, apalagi dia sudah menginjak lima puluh sembilan tahun. Jadi, yg ingin dia lakukan hanya menyusul sang istri. Namun, ternyata bunuh diri untuk Ove nggak semudah itu. Semenjak kedatangan Parvaneh, tetangga barunya yg sedang hamil beserta keluarganya, kehidupan Ove mulai berubah sedikit demi sedikit.
Buku ini bisa dibilang memiliki potensi membosankan dan akhir yg lumayan bisa diprediksi bahwa bakalan happy ending. But, in the end, the warm-hearted parts were hard to resist!!! Gw bahkan nangis terharu menjelang akhir. Terasa sekali keakraban para tokohnya dan kasih sayang mereka terhadap Ove, dari perasaan awal yg mungkin sebal, kasihan atau apapun itu. Dan Ove sendiri juga kelewat serius dan logis dalam semua hal, sehingga orang-orang yg tidak mengenalnya hanya akan melihatnya sebagai pribadi yg kaku dan nggak peka. Beruntungnya orang-orang seperti Ove dianugerahi perempuan seperti Sonja. Yg lebih dinamis, yg menghidupkan hatinya dan pada akhirnya secara nggak sadar akan menciptakan kehangatan dalam jiwa si pria.
Dalam kehidupan setiap orang, mungkin bakal nemu tipe macam Ove ini atau bahkan ditakdirkan untuk terlibat langsung dengan mereka. Dan mungkin, banyak di antara orang-orang, termasuk gw, yg nggak paham dengan tipe macam ini. Thx to this book, I slightly understand u, γηΆγγ....
Tampilkan postingan dengan label books. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label books. Tampilkan semua postingan
7/21/2016
7/18/2016
4/5 stars -- THE YEAR OF THE RAT
Genre : Family, Young Adult
Author : Claire Furniss
Buku yang ditulis dengan sangat indah. Awalnya, kisahnya sangat-sangat menyedihan, namun pas masuk bab-bab akhir mau gak mau meleleh juga. It's so warm-hearted. Pas baca di awal, gw asli pingin banget ngeplak si tokoh utama kita, Pearl, si gadis 16 tahun yang baru saja kehilangan ibu-nya karena sang Ibu memaksakan diri melahirkan bayi di usianya yang tiga puluh delapan tahun. Pearl yang sangat shock jadi membenci semuanya: dunia (well, for teenager, world is a mess place need to be blamed for everything, is it?), ayah(tiri)-nya (yg dianggap oleh Pearl sebagai tersangka pemaksa ibunya untuk melahirkan si bayi karena pingin punya anak sendiri. Pearl ini anak bawaan sang Ibu), si bayi (obviously) dan...ibu-nya, karena meninggalkan dia begitu cepat. Buku ini bercerita tentang Pearl dan bagaimana dia mengatasi kehilangannya, terutama bagaimana dia berusaha untuk menerima adiknya.
Namun, poin penting buku ini sampe layak diganjar empat bintang (at least buat gw) adalah peran ayah di sini. Jarang sekali gw menemui buku-buku dari genre YA, terutama, yang bawa-bawa peran ayah. Well, kalo ayah tukang abuse, pemabuk dan segudang sifat negatif lainnya mah banyak. Tapi yang kayak buku ini sama sekali enggak. I think every man has his own way to love his daughter. THE RAT sendiri bukan mengacu pada tahun dalam penanggalan China, tapi lebih ke julukan Pearl kepada adiknya, karena sang adik lahir prematur, sehingga harus masuk inkubator. Menurut Pearl, kondisi fisik sang adik seperti seekor bayi tikus yang baru lahir. Buku ini lebih kurang tentang drama keluarga dan sedikiiiiiiiiit sentuhan roman. Recommended
buat pecinta genre remaja.
Author : Claire Furniss
Buku yang ditulis dengan sangat indah. Awalnya, kisahnya sangat-sangat menyedihan, namun pas masuk bab-bab akhir mau gak mau meleleh juga. It's so warm-hearted. Pas baca di awal, gw asli pingin banget ngeplak si tokoh utama kita, Pearl, si gadis 16 tahun yang baru saja kehilangan ibu-nya karena sang Ibu memaksakan diri melahirkan bayi di usianya yang tiga puluh delapan tahun. Pearl yang sangat shock jadi membenci semuanya: dunia (well, for teenager, world is a mess place need to be blamed for everything, is it?), ayah(tiri)-nya (yg dianggap oleh Pearl sebagai tersangka pemaksa ibunya untuk melahirkan si bayi karena pingin punya anak sendiri. Pearl ini anak bawaan sang Ibu), si bayi (obviously) dan...ibu-nya, karena meninggalkan dia begitu cepat. Buku ini bercerita tentang Pearl dan bagaimana dia mengatasi kehilangannya, terutama bagaimana dia berusaha untuk menerima adiknya.
Namun, poin penting buku ini sampe layak diganjar empat bintang (at least buat gw) adalah peran ayah di sini. Jarang sekali gw menemui buku-buku dari genre YA, terutama, yang bawa-bawa peran ayah. Well, kalo ayah tukang abuse, pemabuk dan segudang sifat negatif lainnya mah banyak. Tapi yang kayak buku ini sama sekali enggak. I think every man has his own way to love his daughter. THE RAT sendiri bukan mengacu pada tahun dalam penanggalan China, tapi lebih ke julukan Pearl kepada adiknya, karena sang adik lahir prematur, sehingga harus masuk inkubator. Menurut Pearl, kondisi fisik sang adik seperti seekor bayi tikus yang baru lahir. Buku ini lebih kurang tentang drama keluarga dan sedikiiiiiiiiit sentuhan roman. Recommended
buat pecinta genre remaja.
3/5 stars -- KEI : Kutemukan Cinta Di Tengah Perang
Genre: Literature and Fiction
Author : Erni Aladjai
Gw lebih suka tentang kearifan lokal yg diangkat dalam buku ini. Tentang upacara Tutup Sasi Laut: Tutup Sasi Taripang, tentang rasa kebersamaan orang-orang Kei yg lebih dieratkan oleh adat daripada agama hingga Upacara Perdamaian di Tual. Salut dengan Erni Aladjai tentang risetnya seputar kerusuhan Maluku (atau mungkin lebih dikenal dengan kerusuhan Ambon) hingga kehidupan pengungsi pasca kerusuhan. Kisah cinta Namira-Sala juga nggak menyebalkan (buat gw siiih). Banyak tokoh-tokoh sampingan yg menarik, macam Pak Ahmad, Esme Labutubun, Rohana, Mery, Samrina, Emiliana dan keluarga Kumala-Nana. Mereka hanya muncul sebentar, namun kesan gw tentang para tokoh tersebut malah terpatri kuat.
Gw hanya menyayangkan pendeskripsian tokohnya yg minim. Si A kayak Bucek Depp, si B berambut layaknya James Franco, si C yg mirip Steven Spielberg dan beberapa nama selebriti yg menggambarkan tokoh yg ada di sini. Namun di luar semua itu, penggambaran suasananya lumayan jadi pengalihan hal-hal tersebut.
Susah untuk tidak sepaham :)
Author : Erni Aladjai
Gw lebih suka tentang kearifan lokal yg diangkat dalam buku ini. Tentang upacara Tutup Sasi Laut: Tutup Sasi Taripang, tentang rasa kebersamaan orang-orang Kei yg lebih dieratkan oleh adat daripada agama hingga Upacara Perdamaian di Tual. Salut dengan Erni Aladjai tentang risetnya seputar kerusuhan Maluku (atau mungkin lebih dikenal dengan kerusuhan Ambon) hingga kehidupan pengungsi pasca kerusuhan. Kisah cinta Namira-Sala juga nggak menyebalkan (buat gw siiih). Banyak tokoh-tokoh sampingan yg menarik, macam Pak Ahmad, Esme Labutubun, Rohana, Mery, Samrina, Emiliana dan keluarga Kumala-Nana. Mereka hanya muncul sebentar, namun kesan gw tentang para tokoh tersebut malah terpatri kuat.
Gw hanya menyayangkan pendeskripsian tokohnya yg minim. Si A kayak Bucek Depp, si B berambut layaknya James Franco, si C yg mirip Steven Spielberg dan beberapa nama selebriti yg menggambarkan tokoh yg ada di sini. Namun di luar semua itu, penggambaran suasananya lumayan jadi pengalihan hal-hal tersebut.
Rusuh di Kei tak ada hubungannya dengan Islam atau Kristen. Tuhan dan agama tak pernah mengkhianati pemeluknya. Manusialah yang mengkhianati Tuhan dan agamanya. [hal.68]
Susah untuk tidak sepaham :)
10/5 stars -- THE CHILD THIEF - Sang Pencuri Anak
Genre : Fantasy, Retelling
Author : Brom
Retelling Peter Pan terbagus yg pernah gw baca. Ceritanya sangat gelap, berdarah-darah, penuh pembantaian, kemarahan, kemurkaan, putus asa, semua nafsu negatif yg mungkin bisa ditemukan dalam Kotak Pandora tergambar dengan apik dalam buku ini. Selain itu, settingnya bukan di Neverland, melainkan Avalon (iya...Avalon-nya King Arthur yg itu).
Peter yg ada di sini, bukanlah Peter yg kita kenal di versi Disney, yg lovable, tengil dan haus petualangan. Peter yg kita temui di sini, adalah bocah yg masa kecilnya dipenuhi kesedihan akibat tertolak dimana-mana, bahkan oleh keluarganya sendiri, Peter yg dibuang, dibenci dan dipukuli bahkan ketika masih berumur 6 tahun. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Lady Modron, sang penjaga Avallach, Peter menjadi bocah yg terobsesi untuk melindungi Avalon yg dicintai Lady-nya. Peter di bab-bab awal sepertinya memiliki karakter yg berbeda dengan Peter saat bab-bab akhir, maksudnya di awal kayaknya dia digambarkan sebagai bocah yg gemar bermain-main dan berpetualang, sama seperti Peter versi J.M. Barrie. Namun, di akhir, kita akan menemui Peter yg lebih "dark" dan "gloomy", terlepas dari motif di balik berbagai tindakannya.
Di satu sisi, gw melihat bahwa Nick malah yg lebih mendekati karakter yg mudah dicintai pembaca. Nasibnya baik di Manhattan hingga terbawa ke Avalon sulit sekali ditebak. Hampir kayak hero dalam manga, tokoh yg awalnya cuma kroco, ternyata menyimpan potensi yg besar, meskipun nggak terlalu menonjol. Malahan, mungkin pola pikirnya yg sangat masuk akal dari tokoh-tokoh bocah yg lain. (view spoiler) Mungkin juga karena Brom sendiri juga komikus, jadi munculny hero macam ini adalah formula wajib.
Tokoh lain yg mengundang simpatik, tentu saja Kapten Samuel Carver. Bisa dibilang, dia adalah musuh yg paling istimewa (sampe dibikin POV sendiri) dan paling waras dibandingkan Pemakan Daging yg lain, bahkan dari elf gendeng yg terobsesi sama babe-nya. Apalagi kalo liat illustrasi yg digambar Brom, sang Kapten yg nggak serem (bandingkan aja sama Si Pendeta).
Awalnya, gw kira buku ini buat anak-anak. Dan gw kira retelling-nya Grim yg dibikin oleh Adam Gidwitz udah yg paling dark. Ternyata buku ini jauh lebih gelap. Adegan potong memotong baik leher,kaki, tangan maupun anggota badan yg lain, sukses bikin perut mules. Belum lagi beberapa sexual scenes yg jauh dari konteks romantis (baca: sexual abuses macam percobaan perkosaan hingga perempuan digiring telanjang). Lalu pembantaian terhadap makhluk-makhluk baik yg magis maupun manusia biasa (bisa bayangkan yg semacam Tinkerbell diinjak pake sepatu kayak puntung rokok? Lalu sisa daging dan darahnya diusapin gitu aja ke batu atau rumput?). Yg semacam itu bertebaran dari awal sampe akhir. Jadi, gw pribadi sih...gak bakalan ngerekomendasiin ke anak di bawah 18 tahun.
Intinya, gw suka banget sama buku ini. Punya sudah lebih dari setahun yg lalu, ngidamnya sejak terbit (tapi harganya itu lhoooo...untungnya Gramed bikin fair dimana buku seharga IDR 150k ini hanya jadi IDR40k), dan gw ternyata disuguhi buku yg apik ciamik. Karakter jahatnya bisa bikin pembaca beneran pingin nggithes itu tokoh. Dan twistnya sungguh super (ya..karena gw sama sekali nggak bisa nebak haha, tau deh yg lain). Penjelasan Brom di akhir untuk menampilkan kisah ini berdasarkan cerita asli J.M Barrie (dimana mungkin sebagian besar dari kita nggak menyadari "dark"-nya kisah Peter Pan yg asli) menambah sensasi tersendiri. Plus illustrasi-illustrasi yg emejing parah. Entah karena authornya adalah komikus, jadi adegan demi adegan di buku ini kebayang lho kayak baca graphic novel. Oom Brom....aku pada-(karya)mu.
N.B: bukan spoiler sih. Tapi gak ada romance antara Peter dengan siapapun. Wendy ada, namanya ganti jadi Wendlyn (nongol sebentar, sekitar 8-an halaman). Dan si Sekeu...hmmm, Tiger Lily bukan sih?
12/20/2012
3/5 stars -- IBUK
Genre : Literature and Fiction
Author : Iwan Setyawan
Buku Iwan Setyawan pertama yang gw baca. Liat buku ini di toko buku udah lama, tapi gegara bokek akut akhirnya belom kesampaian punya. Thanks to Oom Yasdong, yang sudah meminjaminya.
****
Berkisah tentang keseharian serta keluarga Tinah dan Sim di tanah Batu, Jawa Timur. Tinah yang enggak lulus SD karena terpentok biaya, menikah dengan Sim yang saat itu hanya seorang kenek angkot. Keduanya membangun bahtera rumah tangga sederhana dengan 5 orang anak : Isa, Tina, Bayek, Rini dan Mira. Nah,karakter Bayek ini digambarkan mirip dengan penulis (atau mungkin penulis itu sendiri, entahlah...karena ada tokoh AKU di beberapa bab, yang ikutan nimbrung tulisan :D)sebagai anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga ini.
Kehidupan yang dijalani bukan perkara mudah, namun Ibuk (Tinah) dan Bapak (Sim) berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus kuliah, bahkan ada yang melanjutkan hingga jenjang S2. Tekad sakral Ibuk agar anak-anaknya tidak seperti dia, benar-benar ditepati. Meski sempat pusing karena SPP telat dibayar, tidak bisa membelikan sepatu saat sepatu anak-anaknya jebol, berhutang sana-sini karena uang belanja harus digunakan untuk perbaikan angkot Bapak dan berbagai macam kesulitan lainnya. Hal-hal tersebut bisa dilewati meski dengan tidak mudah, karena rasa kebersamaan dan kedekatan keluarga ini.
****
Saat gw baca resensi di belakang cover, gw udah menduga bahwa buku ini akan bikin gw mewek juga. Namun, ternyata hasilnya tidak semewek yang gw bayangkan. Memang ada beberapa bagian yang bikin gw keingat sama keluarga gw sendiri. Sama Ibu gw, sama Bapak juga dan kehidupan macam apa pas gw kecil dulu (tentu beda, tapi ber-nostalgia kadang-kadang bikin air mata meleleh juga).
Bab demi bab yang tidak terlalu "gemuk" agak sedikit mengurangi bobot kedalaman karakternya. Mungkin disebabkan karena buku ini semi-fiksi. Jika kita membaca biografi penulis, mau tak mau kita akan dibawa kepada kesimpulan bahwa kisah keluarga Ibuk ini adalah kisah keluarga penulis. Karena bersifat autobiografi, maka unsur dramatisme tidak terlalu dominan ditonjolkan. Dialog-nya tidak terlalu mendominasi, malah kebanyakan kalimatnya bersifat narasi. Namun,hal ini tidak mengganggu sama sekali, bahkan membacanya jadi enjoy.
Dimana pun juga, seorang Ibu adalah pahlawan bagi anak-anaknya. Dimanapun sang Ibu berada, dalam kondisi apapun, dengan cara apapun, seorang Ibu akan berjuang mati-matian untuk anak-anaknya. Berbahagialah kaum perempuan yang diberi kesempatan untuk menjadi seorang Ibu. Karena kemungkinan besar, perannya dalam kehidupan seseorang akan sangat mendominasi.
Author : Iwan Setyawan
Buku Iwan Setyawan pertama yang gw baca. Liat buku ini di toko buku udah lama, tapi gegara bokek akut akhirnya belom kesampaian punya. Thanks to Oom Yasdong, yang sudah meminjaminya.
****
Berkisah tentang keseharian serta keluarga Tinah dan Sim di tanah Batu, Jawa Timur. Tinah yang enggak lulus SD karena terpentok biaya, menikah dengan Sim yang saat itu hanya seorang kenek angkot. Keduanya membangun bahtera rumah tangga sederhana dengan 5 orang anak : Isa, Tina, Bayek, Rini dan Mira. Nah,karakter Bayek ini digambarkan mirip dengan penulis (atau mungkin penulis itu sendiri, entahlah...karena ada tokoh AKU di beberapa bab, yang ikutan nimbrung tulisan :D)sebagai anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga ini.
Kehidupan yang dijalani bukan perkara mudah, namun Ibuk (Tinah) dan Bapak (Sim) berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus kuliah, bahkan ada yang melanjutkan hingga jenjang S2. Tekad sakral Ibuk agar anak-anaknya tidak seperti dia, benar-benar ditepati. Meski sempat pusing karena SPP telat dibayar, tidak bisa membelikan sepatu saat sepatu anak-anaknya jebol, berhutang sana-sini karena uang belanja harus digunakan untuk perbaikan angkot Bapak dan berbagai macam kesulitan lainnya. Hal-hal tersebut bisa dilewati meski dengan tidak mudah, karena rasa kebersamaan dan kedekatan keluarga ini.
****
Saat gw baca resensi di belakang cover, gw udah menduga bahwa buku ini akan bikin gw mewek juga. Namun, ternyata hasilnya tidak semewek yang gw bayangkan. Memang ada beberapa bagian yang bikin gw keingat sama keluarga gw sendiri. Sama Ibu gw, sama Bapak juga dan kehidupan macam apa pas gw kecil dulu (tentu beda, tapi ber-nostalgia kadang-kadang bikin air mata meleleh juga).
Bab demi bab yang tidak terlalu "gemuk" agak sedikit mengurangi bobot kedalaman karakternya. Mungkin disebabkan karena buku ini semi-fiksi. Jika kita membaca biografi penulis, mau tak mau kita akan dibawa kepada kesimpulan bahwa kisah keluarga Ibuk ini adalah kisah keluarga penulis. Karena bersifat autobiografi, maka unsur dramatisme tidak terlalu dominan ditonjolkan. Dialog-nya tidak terlalu mendominasi, malah kebanyakan kalimatnya bersifat narasi. Namun,hal ini tidak mengganggu sama sekali, bahkan membacanya jadi enjoy.
Dimana pun juga, seorang Ibu adalah pahlawan bagi anak-anaknya. Dimanapun sang Ibu berada, dalam kondisi apapun, dengan cara apapun, seorang Ibu akan berjuang mati-matian untuk anak-anaknya. Berbahagialah kaum perempuan yang diberi kesempatan untuk menjadi seorang Ibu. Karena kemungkinan besar, perannya dalam kehidupan seseorang akan sangat mendominasi.
9/11/2012
3.5/5 stars -- The Lost Symbol (Robert Langdon #3)
Category : Books
Genre : Fiction
Author : Dan Brown
Mungkin dengan khatamnya buku (baca : e-book) ini, gw akhirnya sudah menamatkan semua buku-buku Dan Brown, semenjak gw baca The Da Vinci Code tahun 2005 lalu. Gaya khas Dan Brown (yang buat gw sedikit mengingatkan dengan genre science - fiction ala almarhum Michael Crichton) mampu membuat pembacanya jadi tahu beberapa hal baru.
Dan dalam buku ini, gw jadi tahu bahwa (katakanlah gw kuno ato ketinggalan jaman deh) Perkumpulan Mason itu adalah seperti yang digambarkan Dan Brown di buku ini. Entah bener apa salah (gak punya referensi buku tentang Mason, gak pernah baca di internet dan belum mencari tahu)
****
Robert Langdon, mendapatkan panggilan via telepon dari mentornya yang seorang member Perkumpulan Mason, Peter Solomon. Langdon diminta untuk memberikan ceramah di Washington DC. Namun, sesampainya di sana, ternyata itu hanyalah akal bulus seorang pecinta mistik dan sihir hitam, Mal'akh alias Andros, untuk membantunya menemukan obsesi untuk mencapai pencerahan sejati. Mal'akh, dimana seluruh tubuhnya ditato dengan simbol-simbol pencerahan, menculik Peter Solomon dan meninggalkan petunjuk kepada Langdong, untuk menuju sebuah harta karun terbesar dari perkumpulan Mason. Harta Karun inilah yang akan menuntun Mal'akh untuk mencapai kekuatan tertinggi di seluruh alam semesta, dan hal itu membuatnya rela melakukan apa saja, termasuk membunuh semua orang.
Langdon sendiri harus mati-matian memecahkan kode-kode dan berpacu dengan waktu, sebelum nyawa mentornya dihabisi oleh sang penculik. Menjelajahi terowongan-terowongan bawah tanah Capitol, Perpustakaan Kongres, kuil-kuil Mason, dan Monumen Washington, Langdon harus berpacu dengan waktu sekaligus menghindari kejaran CIA yang menganggapnya sebagai ancaman nasional. Sebelum tengah malam, Langdon harus sudah berhasil memecahkan teka-teki kelompok Mason.
****
Gw baru nyadar sesuatu :
1. Di setiap buku, selalu didampingin cewek cerdas secara keilmuan, dimana endingnya si cewek pasti (minimal agak-agak) kesengsem sama si Langdon.
2. Dari beratus-ratus halaman yang gw baca, masuk gedung ini dan gedung itu, ketemu orang ini dan orang itu, semuanya hanya dilakukan Langdon hanya dalam kurang lebih 1 hari-an (atau malah kurang?) Apakah waktu di dunia Langdon lebih dari 24 jam?
Well, di luar dari kedua hal itu, kemampuan Dan Brown dalam membuat plot yang seru dan terus mengalir, serta pengetahuan dan riset-nya tentang sejarah, apa yang ada di dalam Perkumpulan Mason (yang katanya super rahasia itu), simbol-simbol kuno patut diacungi jempol.Gak heran kalau buku setebal 700-an halaman ini bisa kelar dalam 2 harian. Berani coba? :D
Genre : Fiction
Author : Dan Brown
Mungkin dengan khatamnya buku (baca : e-book) ini, gw akhirnya sudah menamatkan semua buku-buku Dan Brown, semenjak gw baca The Da Vinci Code tahun 2005 lalu. Gaya khas Dan Brown (yang buat gw sedikit mengingatkan dengan genre science - fiction ala almarhum Michael Crichton) mampu membuat pembacanya jadi tahu beberapa hal baru.
Dan dalam buku ini, gw jadi tahu bahwa (katakanlah gw kuno ato ketinggalan jaman deh) Perkumpulan Mason itu adalah seperti yang digambarkan Dan Brown di buku ini. Entah bener apa salah (gak punya referensi buku tentang Mason, gak pernah baca di internet dan belum mencari tahu)
****
Robert Langdon, mendapatkan panggilan via telepon dari mentornya yang seorang member Perkumpulan Mason, Peter Solomon. Langdon diminta untuk memberikan ceramah di Washington DC. Namun, sesampainya di sana, ternyata itu hanyalah akal bulus seorang pecinta mistik dan sihir hitam, Mal'akh alias Andros, untuk membantunya menemukan obsesi untuk mencapai pencerahan sejati. Mal'akh, dimana seluruh tubuhnya ditato dengan simbol-simbol pencerahan, menculik Peter Solomon dan meninggalkan petunjuk kepada Langdong, untuk menuju sebuah harta karun terbesar dari perkumpulan Mason. Harta Karun inilah yang akan menuntun Mal'akh untuk mencapai kekuatan tertinggi di seluruh alam semesta, dan hal itu membuatnya rela melakukan apa saja, termasuk membunuh semua orang.
Langdon sendiri harus mati-matian memecahkan kode-kode dan berpacu dengan waktu, sebelum nyawa mentornya dihabisi oleh sang penculik. Menjelajahi terowongan-terowongan bawah tanah Capitol, Perpustakaan Kongres, kuil-kuil Mason, dan Monumen Washington, Langdon harus berpacu dengan waktu sekaligus menghindari kejaran CIA yang menganggapnya sebagai ancaman nasional. Sebelum tengah malam, Langdon harus sudah berhasil memecahkan teka-teki kelompok Mason.
****
Gw baru nyadar sesuatu :
1. Di setiap buku, selalu didampingin cewek cerdas secara keilmuan, dimana endingnya si cewek pasti (minimal agak-agak) kesengsem sama si Langdon.
2. Dari beratus-ratus halaman yang gw baca, masuk gedung ini dan gedung itu, ketemu orang ini dan orang itu, semuanya hanya dilakukan Langdon hanya dalam kurang lebih 1 hari-an (atau malah kurang?) Apakah waktu di dunia Langdon lebih dari 24 jam?
Well, di luar dari kedua hal itu, kemampuan Dan Brown dalam membuat plot yang seru dan terus mengalir, serta pengetahuan dan riset-nya tentang sejarah, apa yang ada di dalam Perkumpulan Mason (yang katanya super rahasia itu), simbol-simbol kuno patut diacungi jempol.Gak heran kalau buku setebal 700-an halaman ini bisa kelar dalam 2 harian. Berani coba? :D
ayudiahrespatih wrote on Sep 11
menurut saya mah asa sama wae pola nya....
|
ayudiahrespatih wrote on Sep 11
darnia said
tapi beneran, pengetahuan Dan Brown soal simbol itu bener-bener ciamik Kalo menurutku sih, Mbak..baca bukunya Dan Brown, kasih jeda waktu yang lamaaa banget antara buku satu dan lainnya. Trus selama jeda waktu itu, baca genre yang lain. Dijamin,tetep menarik lah hahahhaha
iya..kalo
soal bahasan dunia simbologinya memang mantaf mbak...meskipun alur
ceritanya udah bisa ditebaklah..pasti kayak gitu tapi banyak
pengetahuan yang menarik juga sih, jadi teuteup baca semua
novelnya.....hehhehe. digital fortless udah? *nulisnya benergak yah?*
|
ayudiahrespatih wrote on Sep 11
kalo yang ini saya juga belum hihihi...
|
ayanapunya wrote on Sep 11
aku udah baca ini. keren. apalagi di bagian kejutannya itu. bnr2 ga nyangka
|
hensamfamily wrote on Sep 11
Davinci
Code TOP 5 in my book list. Tapi pernah baca review seorang teman, dan
penilaiannya buruk tentang buku ini. Jadinya ga baca karena khawatir
kecewa.
|
hensamfamily said
Da Vinci Code emang yang paling heboh
Kalo menurutku, seperti yang dibilang mbak Diah, bukunya Dan Brown emang polanya sama. Nah, buku Dan Brown mana yang dibaca paling awal, itu PASTI yang paling bagus :D Karena pas aku baca Angel and Demon, biasa aja. Bagusan Da Vinci Code. pas temen baca dengan urutan sebaliknya, dia bilang juga sebaliknya :D |
depingacygacy wrote on Sep 11
aku belum beli nih.
*nunggu ada yg jual dg harga 75% :p |
darnia said
Itu
juga yang menggangguku. Dan Brown mustinya belajar dari Umberto Eco
yang amat cermat dalam menghitung waktu. Misal bahkan Eco menghitung
seberapa kalimat yang dibutuhkan untuk menyelesaikan dialog seiring
jarak dari tangga satu ke tangga lain dalam buku The Name of The Rose.
Memang itu ga bisa dihindari kecermatannya ketika melewati kendala
terjemahan ke bahasa lain yang jumlah tiap kata bisa berbeda.
|
martoart said
eh....kalo di bahasa Indonesia, waktunya jadi lebih lama apa lebih cepet, Cak?
Cuma bisa bertahan 2 bab pas baca In The Name of Rose terjemahan T^T |
depingacygacy wrote on Sep 11
"Umberto Eco" <<< blm pernah ketemu bukunya nih
|
depingacygacy wrote on Sep 11
"Demons and Angels" <<< kuwalik mas :p
|
depingacygacy wrote on Sep 11
*keselek
jiah.... |
kaklist said
Aku yang udah baca sih baru 5, Kak :
1. The Da Vinci Code 2. Angels and Demons 3. Deception Point 4. Digital Fortress 5. The Lost Symbol Kalo liat di Goodreads, ada yang judulnya "race The Pale Horse", kali ini yang diobok-obok sama Dan Brown adalah Interpol. |
depingacygacy wrote on Sep 11
ada 2nd yg murcye dan, sayang bhs inggris
http://mail-archive.com/bursa-buku@yahoogroups.com/msg17267.html kalo ga slh yg vers indo 110an, yg vers inggris lbh mahal dan |
depingacygacy wrote on Sep 11
gara2 davinci code, aku jd sempet "mempertanyakan keimananku" :D
|
depingacygacy wrote on Sep 11
njuk piye mas?
:D |
depingacygacy wrote on Sep 11
wkwkwk *wenei baskom gawe tutupan dani :p
jgn pm dan, ntar dikira os, kena tegur :p ga usah buru2 nyari dan, wong aku yo sik bokek, sik kepincut kain2 dan hiks... *lirik dompet |
malambulanbiru wrote on Sep 11
Mason itu nama anaknya Kourtney Kardhashian. Hehe.
|
malambulanbiru wrote on Sep 11
Aku mau e-book-nya dong, Mbdhe. Ya? Ya? Asiik .... Cup-muah!
|
malambulanbiru wrote on Sep 12
Kalau
Kourtney ya seorang Kardhashian. Anaknya Mason (cucunya Kourtney) baru
yang jadi seorang Mason. Nonton Keeping Up With Kardhashian dongg ...
whahaha #penting
nuwun link-e |
malambulanbiru said
nuwun link-e
hihihihi tipiku mokat ket 3 minggu kepungkur, Mbkdhe T^T
tapi aku yo ndak iso nerimo Keeping Up With The Kardhashian :D Btw, cek tuit nggih ^^b |
Langganan:
Postingan (Atom)







