Genre : Fiction and Literature
Author : Fredrik Backman
Butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikan buku ini. Karena awalnya, gw sangka buku ini bakalan selucu The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared, tapi gw salah. Lalu, mendapati bahwa buku ini intinya adalah kisah cinta, gw agak kecewa, karena gw kira akan mendapatkan kisah cinta biasa. Lagi-lagi gw salah.
Ove ini agak mirip karakternya sama Opa Carl Fredricksen di film Up. Penggerutu, pencinta keteraturan, pembenci kemajuan dan mencintai satu perempuan sepanjang hidupnya. Begitu kehilangan sang belahan jiwa, mereka berhenti hidup. Begitulah Ove. Saat kehilangan sang istri, Sonja, karena kanker, Ove merasa tidak ada gunanya dia hidup, apalagi dia sudah menginjak lima puluh sembilan tahun. Jadi, yg ingin dia lakukan hanya menyusul sang istri. Namun, ternyata bunuh diri untuk Ove nggak semudah itu. Semenjak kedatangan Parvaneh, tetangga barunya yg sedang hamil beserta keluarganya, kehidupan Ove mulai berubah sedikit demi sedikit.
Buku ini bisa dibilang memiliki potensi membosankan dan akhir yg lumayan bisa diprediksi bahwa bakalan happy ending. But, in the end, the warm-hearted parts were hard to resist!!! Gw bahkan nangis terharu menjelang akhir. Terasa sekali keakraban para tokohnya dan kasih sayang mereka terhadap Ove, dari perasaan awal yg mungkin sebal, kasihan atau apapun itu. Dan Ove sendiri juga kelewat serius dan logis dalam semua hal, sehingga orang-orang yg tidak mengenalnya hanya akan melihatnya sebagai pribadi yg kaku dan nggak peka. Beruntungnya orang-orang seperti Ove dianugerahi perempuan seperti Sonja. Yg lebih dinamis, yg menghidupkan hatinya dan pada akhirnya secara nggak sadar akan menciptakan kehangatan dalam jiwa si pria.
Dalam kehidupan setiap orang, mungkin bakal nemu tipe macam Ove ini atau bahkan ditakdirkan untuk terlibat langsung dengan mereka. Dan mungkin, banyak di antara orang-orang, termasuk gw, yg nggak paham dengan tipe macam ini. Thx to this book, I slightly understand u, γηΆγγ....
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
7/21/2016
7/18/2016
4/5 stars -- THE YEAR OF THE RAT
Genre : Family, Young Adult
Author : Claire Furniss
Buku yang ditulis dengan sangat indah. Awalnya, kisahnya sangat-sangat menyedihan, namun pas masuk bab-bab akhir mau gak mau meleleh juga. It's so warm-hearted. Pas baca di awal, gw asli pingin banget ngeplak si tokoh utama kita, Pearl, si gadis 16 tahun yang baru saja kehilangan ibu-nya karena sang Ibu memaksakan diri melahirkan bayi di usianya yang tiga puluh delapan tahun. Pearl yang sangat shock jadi membenci semuanya: dunia (well, for teenager, world is a mess place need to be blamed for everything, is it?), ayah(tiri)-nya (yg dianggap oleh Pearl sebagai tersangka pemaksa ibunya untuk melahirkan si bayi karena pingin punya anak sendiri. Pearl ini anak bawaan sang Ibu), si bayi (obviously) dan...ibu-nya, karena meninggalkan dia begitu cepat. Buku ini bercerita tentang Pearl dan bagaimana dia mengatasi kehilangannya, terutama bagaimana dia berusaha untuk menerima adiknya.
Namun, poin penting buku ini sampe layak diganjar empat bintang (at least buat gw) adalah peran ayah di sini. Jarang sekali gw menemui buku-buku dari genre YA, terutama, yang bawa-bawa peran ayah. Well, kalo ayah tukang abuse, pemabuk dan segudang sifat negatif lainnya mah banyak. Tapi yang kayak buku ini sama sekali enggak. I think every man has his own way to love his daughter. THE RAT sendiri bukan mengacu pada tahun dalam penanggalan China, tapi lebih ke julukan Pearl kepada adiknya, karena sang adik lahir prematur, sehingga harus masuk inkubator. Menurut Pearl, kondisi fisik sang adik seperti seekor bayi tikus yang baru lahir. Buku ini lebih kurang tentang drama keluarga dan sedikiiiiiiiiit sentuhan roman. Recommended
buat pecinta genre remaja.
Author : Claire Furniss
Buku yang ditulis dengan sangat indah. Awalnya, kisahnya sangat-sangat menyedihan, namun pas masuk bab-bab akhir mau gak mau meleleh juga. It's so warm-hearted. Pas baca di awal, gw asli pingin banget ngeplak si tokoh utama kita, Pearl, si gadis 16 tahun yang baru saja kehilangan ibu-nya karena sang Ibu memaksakan diri melahirkan bayi di usianya yang tiga puluh delapan tahun. Pearl yang sangat shock jadi membenci semuanya: dunia (well, for teenager, world is a mess place need to be blamed for everything, is it?), ayah(tiri)-nya (yg dianggap oleh Pearl sebagai tersangka pemaksa ibunya untuk melahirkan si bayi karena pingin punya anak sendiri. Pearl ini anak bawaan sang Ibu), si bayi (obviously) dan...ibu-nya, karena meninggalkan dia begitu cepat. Buku ini bercerita tentang Pearl dan bagaimana dia mengatasi kehilangannya, terutama bagaimana dia berusaha untuk menerima adiknya.
Namun, poin penting buku ini sampe layak diganjar empat bintang (at least buat gw) adalah peran ayah di sini. Jarang sekali gw menemui buku-buku dari genre YA, terutama, yang bawa-bawa peran ayah. Well, kalo ayah tukang abuse, pemabuk dan segudang sifat negatif lainnya mah banyak. Tapi yang kayak buku ini sama sekali enggak. I think every man has his own way to love his daughter. THE RAT sendiri bukan mengacu pada tahun dalam penanggalan China, tapi lebih ke julukan Pearl kepada adiknya, karena sang adik lahir prematur, sehingga harus masuk inkubator. Menurut Pearl, kondisi fisik sang adik seperti seekor bayi tikus yang baru lahir. Buku ini lebih kurang tentang drama keluarga dan sedikiiiiiiiiit sentuhan roman. Recommended
buat pecinta genre remaja.
3/5 stars -- KEI : Kutemukan Cinta Di Tengah Perang
Genre: Literature and Fiction
Author : Erni Aladjai
Gw lebih suka tentang kearifan lokal yg diangkat dalam buku ini. Tentang upacara Tutup Sasi Laut: Tutup Sasi Taripang, tentang rasa kebersamaan orang-orang Kei yg lebih dieratkan oleh adat daripada agama hingga Upacara Perdamaian di Tual. Salut dengan Erni Aladjai tentang risetnya seputar kerusuhan Maluku (atau mungkin lebih dikenal dengan kerusuhan Ambon) hingga kehidupan pengungsi pasca kerusuhan. Kisah cinta Namira-Sala juga nggak menyebalkan (buat gw siiih). Banyak tokoh-tokoh sampingan yg menarik, macam Pak Ahmad, Esme Labutubun, Rohana, Mery, Samrina, Emiliana dan keluarga Kumala-Nana. Mereka hanya muncul sebentar, namun kesan gw tentang para tokoh tersebut malah terpatri kuat.
Gw hanya menyayangkan pendeskripsian tokohnya yg minim. Si A kayak Bucek Depp, si B berambut layaknya James Franco, si C yg mirip Steven Spielberg dan beberapa nama selebriti yg menggambarkan tokoh yg ada di sini. Namun di luar semua itu, penggambaran suasananya lumayan jadi pengalihan hal-hal tersebut.
Susah untuk tidak sepaham :)
Author : Erni Aladjai
Gw lebih suka tentang kearifan lokal yg diangkat dalam buku ini. Tentang upacara Tutup Sasi Laut: Tutup Sasi Taripang, tentang rasa kebersamaan orang-orang Kei yg lebih dieratkan oleh adat daripada agama hingga Upacara Perdamaian di Tual. Salut dengan Erni Aladjai tentang risetnya seputar kerusuhan Maluku (atau mungkin lebih dikenal dengan kerusuhan Ambon) hingga kehidupan pengungsi pasca kerusuhan. Kisah cinta Namira-Sala juga nggak menyebalkan (buat gw siiih). Banyak tokoh-tokoh sampingan yg menarik, macam Pak Ahmad, Esme Labutubun, Rohana, Mery, Samrina, Emiliana dan keluarga Kumala-Nana. Mereka hanya muncul sebentar, namun kesan gw tentang para tokoh tersebut malah terpatri kuat.
Gw hanya menyayangkan pendeskripsian tokohnya yg minim. Si A kayak Bucek Depp, si B berambut layaknya James Franco, si C yg mirip Steven Spielberg dan beberapa nama selebriti yg menggambarkan tokoh yg ada di sini. Namun di luar semua itu, penggambaran suasananya lumayan jadi pengalihan hal-hal tersebut.
Rusuh di Kei tak ada hubungannya dengan Islam atau Kristen. Tuhan dan agama tak pernah mengkhianati pemeluknya. Manusialah yang mengkhianati Tuhan dan agamanya. [hal.68]
Susah untuk tidak sepaham :)
10/5 stars -- THE CHILD THIEF - Sang Pencuri Anak
Genre : Fantasy, Retelling
Author : Brom
Retelling Peter Pan terbagus yg pernah gw baca. Ceritanya sangat gelap, berdarah-darah, penuh pembantaian, kemarahan, kemurkaan, putus asa, semua nafsu negatif yg mungkin bisa ditemukan dalam Kotak Pandora tergambar dengan apik dalam buku ini. Selain itu, settingnya bukan di Neverland, melainkan Avalon (iya...Avalon-nya King Arthur yg itu).
Peter yg ada di sini, bukanlah Peter yg kita kenal di versi Disney, yg lovable, tengil dan haus petualangan. Peter yg kita temui di sini, adalah bocah yg masa kecilnya dipenuhi kesedihan akibat tertolak dimana-mana, bahkan oleh keluarganya sendiri, Peter yg dibuang, dibenci dan dipukuli bahkan ketika masih berumur 6 tahun. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Lady Modron, sang penjaga Avallach, Peter menjadi bocah yg terobsesi untuk melindungi Avalon yg dicintai Lady-nya. Peter di bab-bab awal sepertinya memiliki karakter yg berbeda dengan Peter saat bab-bab akhir, maksudnya di awal kayaknya dia digambarkan sebagai bocah yg gemar bermain-main dan berpetualang, sama seperti Peter versi J.M. Barrie. Namun, di akhir, kita akan menemui Peter yg lebih "dark" dan "gloomy", terlepas dari motif di balik berbagai tindakannya.
Di satu sisi, gw melihat bahwa Nick malah yg lebih mendekati karakter yg mudah dicintai pembaca. Nasibnya baik di Manhattan hingga terbawa ke Avalon sulit sekali ditebak. Hampir kayak hero dalam manga, tokoh yg awalnya cuma kroco, ternyata menyimpan potensi yg besar, meskipun nggak terlalu menonjol. Malahan, mungkin pola pikirnya yg sangat masuk akal dari tokoh-tokoh bocah yg lain. (view spoiler) Mungkin juga karena Brom sendiri juga komikus, jadi munculny hero macam ini adalah formula wajib.
Tokoh lain yg mengundang simpatik, tentu saja Kapten Samuel Carver. Bisa dibilang, dia adalah musuh yg paling istimewa (sampe dibikin POV sendiri) dan paling waras dibandingkan Pemakan Daging yg lain, bahkan dari elf gendeng yg terobsesi sama babe-nya. Apalagi kalo liat illustrasi yg digambar Brom, sang Kapten yg nggak serem (bandingkan aja sama Si Pendeta).
Awalnya, gw kira buku ini buat anak-anak. Dan gw kira retelling-nya Grim yg dibikin oleh Adam Gidwitz udah yg paling dark. Ternyata buku ini jauh lebih gelap. Adegan potong memotong baik leher,kaki, tangan maupun anggota badan yg lain, sukses bikin perut mules. Belum lagi beberapa sexual scenes yg jauh dari konteks romantis (baca: sexual abuses macam percobaan perkosaan hingga perempuan digiring telanjang). Lalu pembantaian terhadap makhluk-makhluk baik yg magis maupun manusia biasa (bisa bayangkan yg semacam Tinkerbell diinjak pake sepatu kayak puntung rokok? Lalu sisa daging dan darahnya diusapin gitu aja ke batu atau rumput?). Yg semacam itu bertebaran dari awal sampe akhir. Jadi, gw pribadi sih...gak bakalan ngerekomendasiin ke anak di bawah 18 tahun.
Intinya, gw suka banget sama buku ini. Punya sudah lebih dari setahun yg lalu, ngidamnya sejak terbit (tapi harganya itu lhoooo...untungnya Gramed bikin fair dimana buku seharga IDR 150k ini hanya jadi IDR40k), dan gw ternyata disuguhi buku yg apik ciamik. Karakter jahatnya bisa bikin pembaca beneran pingin nggithes itu tokoh. Dan twistnya sungguh super (ya..karena gw sama sekali nggak bisa nebak haha, tau deh yg lain). Penjelasan Brom di akhir untuk menampilkan kisah ini berdasarkan cerita asli J.M Barrie (dimana mungkin sebagian besar dari kita nggak menyadari "dark"-nya kisah Peter Pan yg asli) menambah sensasi tersendiri. Plus illustrasi-illustrasi yg emejing parah. Entah karena authornya adalah komikus, jadi adegan demi adegan di buku ini kebayang lho kayak baca graphic novel. Oom Brom....aku pada-(karya)mu.
N.B: bukan spoiler sih. Tapi gak ada romance antara Peter dengan siapapun. Wendy ada, namanya ganti jadi Wendlyn (nongol sebentar, sekitar 8-an halaman). Dan si Sekeu...hmmm, Tiger Lily bukan sih?
12/20/2012
3/5 stars -- IBUK
Genre : Literature and Fiction
Author : Iwan Setyawan
Buku Iwan Setyawan pertama yang gw baca. Liat buku ini di toko buku udah lama, tapi gegara bokek akut akhirnya belom kesampaian punya. Thanks to Oom Yasdong, yang sudah meminjaminya.
****
Berkisah tentang keseharian serta keluarga Tinah dan Sim di tanah Batu, Jawa Timur. Tinah yang enggak lulus SD karena terpentok biaya, menikah dengan Sim yang saat itu hanya seorang kenek angkot. Keduanya membangun bahtera rumah tangga sederhana dengan 5 orang anak : Isa, Tina, Bayek, Rini dan Mira. Nah,karakter Bayek ini digambarkan mirip dengan penulis (atau mungkin penulis itu sendiri, entahlah...karena ada tokoh AKU di beberapa bab, yang ikutan nimbrung tulisan :D)sebagai anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga ini.
Kehidupan yang dijalani bukan perkara mudah, namun Ibuk (Tinah) dan Bapak (Sim) berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus kuliah, bahkan ada yang melanjutkan hingga jenjang S2. Tekad sakral Ibuk agar anak-anaknya tidak seperti dia, benar-benar ditepati. Meski sempat pusing karena SPP telat dibayar, tidak bisa membelikan sepatu saat sepatu anak-anaknya jebol, berhutang sana-sini karena uang belanja harus digunakan untuk perbaikan angkot Bapak dan berbagai macam kesulitan lainnya. Hal-hal tersebut bisa dilewati meski dengan tidak mudah, karena rasa kebersamaan dan kedekatan keluarga ini.
****
Saat gw baca resensi di belakang cover, gw udah menduga bahwa buku ini akan bikin gw mewek juga. Namun, ternyata hasilnya tidak semewek yang gw bayangkan. Memang ada beberapa bagian yang bikin gw keingat sama keluarga gw sendiri. Sama Ibu gw, sama Bapak juga dan kehidupan macam apa pas gw kecil dulu (tentu beda, tapi ber-nostalgia kadang-kadang bikin air mata meleleh juga).
Bab demi bab yang tidak terlalu "gemuk" agak sedikit mengurangi bobot kedalaman karakternya. Mungkin disebabkan karena buku ini semi-fiksi. Jika kita membaca biografi penulis, mau tak mau kita akan dibawa kepada kesimpulan bahwa kisah keluarga Ibuk ini adalah kisah keluarga penulis. Karena bersifat autobiografi, maka unsur dramatisme tidak terlalu dominan ditonjolkan. Dialog-nya tidak terlalu mendominasi, malah kebanyakan kalimatnya bersifat narasi. Namun,hal ini tidak mengganggu sama sekali, bahkan membacanya jadi enjoy.
Dimana pun juga, seorang Ibu adalah pahlawan bagi anak-anaknya. Dimanapun sang Ibu berada, dalam kondisi apapun, dengan cara apapun, seorang Ibu akan berjuang mati-matian untuk anak-anaknya. Berbahagialah kaum perempuan yang diberi kesempatan untuk menjadi seorang Ibu. Karena kemungkinan besar, perannya dalam kehidupan seseorang akan sangat mendominasi.
Author : Iwan Setyawan
Buku Iwan Setyawan pertama yang gw baca. Liat buku ini di toko buku udah lama, tapi gegara bokek akut akhirnya belom kesampaian punya. Thanks to Oom Yasdong, yang sudah meminjaminya.
****
Berkisah tentang keseharian serta keluarga Tinah dan Sim di tanah Batu, Jawa Timur. Tinah yang enggak lulus SD karena terpentok biaya, menikah dengan Sim yang saat itu hanya seorang kenek angkot. Keduanya membangun bahtera rumah tangga sederhana dengan 5 orang anak : Isa, Tina, Bayek, Rini dan Mira. Nah,karakter Bayek ini digambarkan mirip dengan penulis (atau mungkin penulis itu sendiri, entahlah...karena ada tokoh AKU di beberapa bab, yang ikutan nimbrung tulisan :D)sebagai anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga ini.
Kehidupan yang dijalani bukan perkara mudah, namun Ibuk (Tinah) dan Bapak (Sim) berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus kuliah, bahkan ada yang melanjutkan hingga jenjang S2. Tekad sakral Ibuk agar anak-anaknya tidak seperti dia, benar-benar ditepati. Meski sempat pusing karena SPP telat dibayar, tidak bisa membelikan sepatu saat sepatu anak-anaknya jebol, berhutang sana-sini karena uang belanja harus digunakan untuk perbaikan angkot Bapak dan berbagai macam kesulitan lainnya. Hal-hal tersebut bisa dilewati meski dengan tidak mudah, karena rasa kebersamaan dan kedekatan keluarga ini.
****
Saat gw baca resensi di belakang cover, gw udah menduga bahwa buku ini akan bikin gw mewek juga. Namun, ternyata hasilnya tidak semewek yang gw bayangkan. Memang ada beberapa bagian yang bikin gw keingat sama keluarga gw sendiri. Sama Ibu gw, sama Bapak juga dan kehidupan macam apa pas gw kecil dulu (tentu beda, tapi ber-nostalgia kadang-kadang bikin air mata meleleh juga).
Bab demi bab yang tidak terlalu "gemuk" agak sedikit mengurangi bobot kedalaman karakternya. Mungkin disebabkan karena buku ini semi-fiksi. Jika kita membaca biografi penulis, mau tak mau kita akan dibawa kepada kesimpulan bahwa kisah keluarga Ibuk ini adalah kisah keluarga penulis. Karena bersifat autobiografi, maka unsur dramatisme tidak terlalu dominan ditonjolkan. Dialog-nya tidak terlalu mendominasi, malah kebanyakan kalimatnya bersifat narasi. Namun,hal ini tidak mengganggu sama sekali, bahkan membacanya jadi enjoy.
Dimana pun juga, seorang Ibu adalah pahlawan bagi anak-anaknya. Dimanapun sang Ibu berada, dalam kondisi apapun, dengan cara apapun, seorang Ibu akan berjuang mati-matian untuk anak-anaknya. Berbahagialah kaum perempuan yang diberi kesempatan untuk menjadi seorang Ibu. Karena kemungkinan besar, perannya dalam kehidupan seseorang akan sangat mendominasi.
11/30/2012
4/5 stars -- Life of Pi
Category : Movies
Genre : Drama
Film ini dibuka dengan curhatan seorang penulis (Rafe Spall) yang baru saja membuang karya terbarunya, karena menurutnya dia tidak bisa memberikan jiwa pada novel barunya. Dan dia bertemu orang tua di warung kopi yang menyarankan dirinya untuk bertemu Pi Patel (Irffan Khan). Si orang tua yang dijuluki Mamaji berkata, bahawa Pi Patel akan memberikan dia sebuah cerita yang luar biasa. Dan memang dia akan mendapatkannya.
Pi mengawali ceritanya dengan asal mula namanya dan kehidupannya. Bagian ini cukup membuat penonton terbahak-bahak, karena banyak hal-hal sederhana yang lugu. Bahwa Piscine Molitol Patel adalah nama yang diambil dari kolam renang terkenal di Paris, yang kemudian Piscine (yang dilafalkan dengan "pissing") turun derajat diantara teman-temannya, menjadi toilet paling bau se- India. Kemudian, tentang keluarga Patel sendiri. Ayah yang tidak percaya Tuhan, karena saat kecil menderita akibat polio, Ibu yang dibuang keluarga karena dianggap menikahi kasta yang lebih rendah serta kakak laki-laki yang cuek bebek dengan kehidupan dan maknanya. Pi kecil tumbuh dengan kebijaksanaan tertentu dalam dirinya.
Hingga suatu hari, keluarga Patel yang selama ini bertahan hidup dari kebun binatang yang tanahnya didanai Pemerintah Daerah, kudu pindah ke Kanada karena pemerintah menyetop dananya. Binatang-binatang di situ adalah milik keluarga Patel, sehingga mereka hendak menjualnya ke Amerika Selatan dan uangnya akan digunakan untuk memulai hidup baru. Namun, ternyata di tengah perjalanan menggunakan kapal laut Tsimtsum, kapal tersebut karam. Seluruh penumpang, hewan-hewan serta keluarganya tenggelam, hanya menyisakan sebuah sekoci, Pi sendiri, zebra yang kakinya patah, Hyena yang mabuk laut, orang utan bernama Orange Juice yang kehilangan anaknya dan Richard Parker, seekor macam Bengali dewasa.
Di sinilah, petualangan Pi dalam menemukan Tuhan dimulai.
****
Dulu gw sempat memimpikan bahwa buku karya Yann Martel ini akan difilmkan. Dan ternyata, difilmkan juga!! Terima kasih udah milih Ang Lee sebagai Produser, karena gw bener-bener dimanjakan sama scene-scene-nya yang indah. Bukunya sendiri memenangkan Man Booker Prize for Fiction. Dialog yang dibangun-pun renyah (meski ada beberapa scene yang dialog-nya panjaaaaang banget, sampe ngantuk) dan beberapa JLEB JLEB JLEB CLEB CLEB JLEB!!!!!!!!!!!!! :D
Tapi gw pribadi puas dengan film ini. Pulau Meerkat sendiri seperti yang gw bayangkan. Stunning, bright, tapi di balik itu semua scary.....Indah lah pokoknya. Mata akan terus dimanjakan dengan scenery yang menawan sepanjang film. Check it out by yourself ;)
Genre : Drama
Film ini dibuka dengan curhatan seorang penulis (Rafe Spall) yang baru saja membuang karya terbarunya, karena menurutnya dia tidak bisa memberikan jiwa pada novel barunya. Dan dia bertemu orang tua di warung kopi yang menyarankan dirinya untuk bertemu Pi Patel (Irffan Khan). Si orang tua yang dijuluki Mamaji berkata, bahawa Pi Patel akan memberikan dia sebuah cerita yang luar biasa. Dan memang dia akan mendapatkannya.
Pi mengawali ceritanya dengan asal mula namanya dan kehidupannya. Bagian ini cukup membuat penonton terbahak-bahak, karena banyak hal-hal sederhana yang lugu. Bahwa Piscine Molitol Patel adalah nama yang diambil dari kolam renang terkenal di Paris, yang kemudian Piscine (yang dilafalkan dengan "pissing") turun derajat diantara teman-temannya, menjadi toilet paling bau se- India. Kemudian, tentang keluarga Patel sendiri. Ayah yang tidak percaya Tuhan, karena saat kecil menderita akibat polio, Ibu yang dibuang keluarga karena dianggap menikahi kasta yang lebih rendah serta kakak laki-laki yang cuek bebek dengan kehidupan dan maknanya. Pi kecil tumbuh dengan kebijaksanaan tertentu dalam dirinya.
Hingga suatu hari, keluarga Patel yang selama ini bertahan hidup dari kebun binatang yang tanahnya didanai Pemerintah Daerah, kudu pindah ke Kanada karena pemerintah menyetop dananya. Binatang-binatang di situ adalah milik keluarga Patel, sehingga mereka hendak menjualnya ke Amerika Selatan dan uangnya akan digunakan untuk memulai hidup baru. Namun, ternyata di tengah perjalanan menggunakan kapal laut Tsimtsum, kapal tersebut karam. Seluruh penumpang, hewan-hewan serta keluarganya tenggelam, hanya menyisakan sebuah sekoci, Pi sendiri, zebra yang kakinya patah, Hyena yang mabuk laut, orang utan bernama Orange Juice yang kehilangan anaknya dan Richard Parker, seekor macam Bengali dewasa.
Di sinilah, petualangan Pi dalam menemukan Tuhan dimulai.
****
Dulu gw sempat memimpikan bahwa buku karya Yann Martel ini akan difilmkan. Dan ternyata, difilmkan juga!! Terima kasih udah milih Ang Lee sebagai Produser, karena gw bener-bener dimanjakan sama scene-scene-nya yang indah. Bukunya sendiri memenangkan Man Booker Prize for Fiction. Dialog yang dibangun-pun renyah (meski ada beberapa scene yang dialog-nya panjaaaaang banget, sampe ngantuk) dan beberapa JLEB JLEB JLEB CLEB CLEB JLEB!!!!!!!!!!!!! :D
Tapi gw pribadi puas dengan film ini. Pulau Meerkat sendiri seperti yang gw bayangkan. Stunning, bright, tapi di balik itu semua scary.....Indah lah pokoknya. Mata akan terus dimanjakan dengan scenery yang menawan sepanjang film. Check it out by yourself ;)
9/17/2012
3.5/5 stars -- Resident Evil Retribution
Category : Movies
Genre : Actions
Well, gw gak nonton Resident Evil 1-5, jadi gw enggak terlalu paham korelasi antar film (yang kata si Mas, kemungkinan besar enggak saling berhubungan, cuma benang merahnya doang yang konek). Cuma....di film ke-enam ini, penonton awam-pun akan lumayan paham jalan ceritanya (meski mungkin enggak konek juga sama hubungan tokoh satu dengan yang lain). Ya sutralah..dinikmati saja itu adegan demi adegan yang bikin menahan napas, entah kaget atau kagum.
****
Film dibuka dengan adegan mundur super apik (yang kayaknya lanjutan dari pilem ke-5) sebagai opening title, dimana ada sebuah kapal perang induk yang dibombardir pesawat-pesawat kiriman Umbrella Corp. Alice (Milla Jovovich) nampak dalam alur mundur bahwa dia kena ledakan pesawat dan tercebur ke laut. Mendadak, adegan berubah total.
Alice (yang kemudian berambut pirang) terbangun dari tidurnya di pagi hari, mendapati dirinya tinggal di sebuah rumah yang asri dengan suami serta Becky (Aryana Engineer), putri semata wayangnya, yang berkomunikasi dengan bahasa isyarat dan suara. Namun, ternyata kota kecil nan asri tersebut porak poranda akibat ulah para zombie (manusia yang sudah terkontaminasi T-virus) dan membuat kekacauan total di kota tersebut. Saat Alice harus mati-matian melawan para zombie, tiba-tiba semuanya menggelap. Saat terbangun kembali, Alice tidak lagi berada di kota penuh monster, namun di penjara Umbrella Corp. dengan status siap interogasi.
****
Gak usah cerita panjang lebar soal sinopsis film ini, karena lebih enak ditonton. Dari awal sudah disuguhi adegan action yang enggak putus-putus. Sekalinya napas, langsung dikagetin zombie (entah berapa kali gw terlonjak dari kursi karena kaget). Tapi mbak Jovovich ini sungguh ciamik ekspresi, gaya berantem hingga dialog-dialognya. Sienna Guillory yang didapuk sebagai Jill Valentine jadi berubah total. Kata kakak Mona (mooncatz.multiply.com) yang sempat main game versi awalnya, kalo di keterangannya kagak ditulis itu Jill Valentine, maka dia gak akan ngeh. Entah karena markas Umbrella yang ada di bunker bawah es tersebut, jadinya Jill kostumnya berubah gitu.
Kemunculan para monster dan zombie-zombie juga makin membuat film ini keren dalam segi aksinya. Adegan bertarung mbak Alice, yang kemudian dibantu oleh Ada Wong (Li Bingbing) dan tim penyelamatnya Alice, sungguh asyik banget untuk disimak. Berapa kali gw mendengar decak kagum si Mas pas mbak Alice ini berantem. Sungguh tipikal wanita jagoan tulen. WE ADORE YOU, MBAK ALICE!!! Tatapan mata yang dingin dan gerakan dengan kontrol yang ciamik bikin betah aja nontonnya.
Cumaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......ya gitu deh ceritanya. Gw seolah-olah dijanjikan akan ada ending yang WUAAAAH.... gimanaaaa gitu! Adegan yang kemungkinan bakalan membekas atau bikin merinding atau apalah.. Nyatanya pas di ending, gw kudu menelan pil pahit kuciwa karena adegan yang dimaksud enggak ditemukan di film ini. Jadi ya udin deh. Selama satu setengah jam disuguhi adegan bak-bik-buk nan keren, hanya untuk.....menonton mbak Alice berantem. Kayaknya sih Resident Evil 7 bakalan seru kalo liat endingnya. Ya semoga nantinya enggak kayak nasi goreng kebanyakan kecap....eneg!
nawhi said
hahhaha Semoga yaaa.....
soalnya kalo denger cerita anak-anaknya temen, banyak yang bosen kalo diajak nonton (pas anaknya udah lahir) padahal pas hamil ya mungkin kayak mbak Ivon gitu :)) Aseli lho, Mas..ini film seru abis \(^O^)/ *kompoooorrr* |
edwinlives4ever wrote on Sep 17
This movie series is getting worse and worse.
|
edwinlives4ever wrote on Sep 17
She
performed much better in Ultra Violet with that gunkata. Of course, the
best gunkata was performed by Christian Bale in Equilibrium.
|
edwinlives4ever said
eh iyaaa....Ultra Violet juga keren (udah lama banget nontonnya sampe gak inget)
HUWAA...MAS EDWIN NYEBUT EQUILIBRIUM!!! *mimisan* Aseli itu adegan berantemnya (meski mustahil tralala) tapi kweren abis..kweren..kweren..kweren!!!! |
edwinlives4ever wrote on Sep 17
Not
really. With some friends I've developed our own version of gunkata,
and it does work (although not as depicted in that movie).
|
edwinlives4ever said
:O
:O :O Mbok ya....kapan-kapan gitu....ngeliat langsung berantem pake Gunkata.... LIVE ACTION by Edwin cs...... keren yah, kayaknya..... *nerawang* |
edwinlives4ever wrote on Sep 17
It's
just like any other armed kata, only the melee weapons are replaced
with guns, optimizing the usage of the projectile-launching weapon.
|
edwinlives4ever wrote on Sep 17
Any weapon that does not involve a projectile: swords, knives, machetes, clubs, nunchakus, batons, battleaxes, etc.
Guns are classified as ranged weapon. |
edwinlives4ever said
Guns are classified as ranged weapon.
begituuuu....
*cateut* -- nambah ilmu -- *lagaknya kayak mau jadi jagoan cewek* XD |
anchaanwar wrote on Sep 17
edwinlives4ever said
No pic = Hoax
*kompor* |
edwinlives4ever wrote on Sep 17
Come meet me and I'll show you how to do it. Bring a kevlar vest and a kevlar helmet.
|
anchaanwar wrote on Sep 17
Gw jadi sasaran gitu?
:(( |
edwinlives4ever wrote on Sep 17
You
meant "worse than Resident Evil 1-4", I assume? This Resident Evil:
Retribution is the fifth installment, not the sixth. I collected
Resident Evil, Resident Evil: Apocalypse, Resident Evil: Extinction,
and Resident Evil: Afterlife DVDs, and I got more and more disappointed
with every new installment, and I don't think I'd collect this fifth
movie.
|
edwinlives4ever said
oh!! Ini yang kelima?? *jitak si Mas yang bilang ini film ke-6*
Wah...kan udah mau kumplit tuh, Mas? Gak sayang gak lanjut koleksi?? |
edwinlives4ever wrote on Sep 17
They
canceled the plan to make the fifth and sixth installments
back-to-back, and decided that the sixth will only be made if the fifth
is successful enough, and it will be the finale of the series.
If the finale is good enough, I'll complete the whole series. If not, well, better think of the whole series as one ended in a cliffhanger. |
edwinlives4ever said
If the finale is good enough, I'll complete the whole series. If not, well, better think of the whole series as one ended in a cliffhanger.
EH!!! Gak bisa gitu dong!!! Kan endingnya gitu doang?? Kalo kagak dilanjutin itu monster sebanyak itu mau diapain??? :O
*tapi liat ending scene itu jadi keinget pas dulu habis sakit, trus nonton film-film post-apocalypse, merindingnya gak ilang-ilang sampe kebawa mimpi hahahah* Hahahha....kalo emang nanti film terakhirnya jelek, ada yang bersedia menampung film 1-4 kok, Mas *siyul-siyul* -- digunkata -- |
edwinlives4ever wrote on Sep 17
They can dance gangnam style.
|
edwinlives4ever wrote on Sep 17
You're soooooooo right!
|
darnia said
yang gw inget dari Resident Evil cuma pas adegan banyak gagak di langit itu,trus jeung Alice ini ngebakar itu gagak Itu yang keberapa yey?
wah gw lupa..
yang 1 itu yang biasanya nongol di tivi lho dan.. yang dia pertama kali sejarahnya itu Umbrella Corp jadi markas zombie setelahnya gw dah absurd ga ngikutin haha |
thebimz said
yang 1 itu yang biasanya nongol di tivi lho dan.. yang dia pertama kali sejarahnya itu Umbrella Corp jadi markas zombie setelahnya gw dah absurd ga ngikutin haha
hahahha masih untung elu nonton yang pertama
gw kagaaak XD jadi tau soal Resident Evil malah dulu pas mau launching filmnya, Animonster mbahas game Resident Evil n Jill Valentine. Gw kira malah jeung Jovovich ini yang jadi Jill Valentine :D |
darnia said
gw kagaaak XD jadi tau soal Resident Evil malah dulu pas mau launching filmnya, Animonster mbahas game Resident Evil n Jill Valentine. Gw kira malah jeung Jovovich ini yang jadi Jill Valentine :D
dulu kan pas pertama muncul Resident Evil itu wow banget.. mungkin karena awal2 video game dibikin film kali yah...
|
edwinlives4ever wrote on Sep 17
darnia said
Itu yang keberapa yey?
Resident Evil: Extinction.
Third installment. |
anchaanwar wrote on Sep 17
sa'tujuh!!!
|
rengganiez wrote on Sep 17, edited on Sep 17
aku
juga gak nonton yang 1-5, dan baru nonton yang ini...ya akhirnya hanya
menjadi hiburan saja, gak mau meraba2 apa yang terjadi sebelumnya, dan
sesudahnya nanti yang masih akan berlanjut...
cuman jadi inget the walking dead ajah...btw menurutku adegan yang paling keren itu, pas yang jelang terakhir, si musuh diblesekke ke air dan dibawahnya sudah ada banyak zombie..trus membentuk piramida...kerenn dehhhh |
rengganiez said
woooh iyaaa...ini juga keren...
Btw, entah kenapa, Michelle Rodriguez itu kayaknya aktris yang spesialis jadi tentara wanita yak? :| Mulai dari Resident Evil, S.W.A.T, sampe Avatar :D |
rengganiez wrote on Sep 17
darnia said
Btw, entah kenapa, Michelle Rodriguez itu kayaknya aktris yang spesialis jadi tentara wanita yak? :| Mulai dari Resident Evil, S.W.A.T, sampe Avatar :D
duhh pilem2 itu lum aku tonton, dan hahahaha
|
rengganiez wrote on Sep 17
darnia said
pasti cewek satu ini tampangnya catchy banget :D
soalnya gahar gituh...
|
edwinlives4ever wrote on Sep 17
Actually, she has. It was a telenovela.
|
edwinlives4ever wrote on Sep 17
Amores Verdaderos (True Love)
|
anchaanwar wrote on Sep 17
No 2 di list female badass gw
http://anchaanwar.multiply.com/journal/item/592 |
darnia said
belum playernya yang juga mahal *nangis ndek pojokan*
Player
sih gak begitu disini, banyak obralan....yang 3D memang mahal juga
Filmnya, enak kalu ada...bisa ganti² Bahasanya.Syncronisasinya disini
bagus, kadangkala iseng dengar dibahasa Spanyol jadi lucu,,..
|
darnia said
kadang kalo nonton yang audionya bisa diganti, nonton pake bahasa lain juga suka cekikikan sendiri :D
Apalagi
si Ujang Ganteng kakinya gak mau diem....suka pinjem Film 3D dari
Videothek...nonton ditempatku, karena 3D...kalau lihat dia
nonton...pingin cengengesan komentarnya lucu.....apalagi waktu
si*setan* buka mulutnya..weh......
|
orangjava said
si "setan" niku sinten, Mbah Kung?
Andre sukanya pilem apa?? :> |
anchaanwar wrote on Sep 17
orangjava said
Ooo, kacamata 3D yang dalam paketan tv berfungsi ya?
Oke, kapan2 gw bawa ah... Iya benerr, kacamata 3D itu menganggu banget. gw ga betah, mana hrs dobel kacamata lagi :(( |
tintin1868 wrote on Sep 17
:D aha ada juga yang posting..
|
tintin1868 wrote on Sep 17
jarangjarang ada yang posting zombie2an soale.. kan ga banyak penggemar horor dimari..
|
tintin1868 said
mungkin banyak juga, Mbak
kalo penggemar Walking Dead aku tahu-nya mbak Hanitje, Ancha, Muse, Mbak Tin...banyak kan? :D |
edwinlives4ever wrote on Sep 17
Dibot
|
anchaanwar wrote on Sep 17
TWD Season 3 sudah siap2 tayang di cable!
Yay!!! Can hardly wait! |
edwinlives4ever wrote on Sep 17
And the 102nd issue of the comic has been released in September 12.
|
anchaanwar wrote on Sep 17
Mintaaaaaa!!!
eh comic TWD komplit ga ya. Kmrn kalo ga salah 90-an deh. Dan komiknya lebih sadis ternyata @__@a |
edwinlives4ever wrote on Sep 17
Especially the scenes of Glen's death.
|
anchaanwar wrote on Sep 17
Tetoootttt
SPOILER ALERT!!! :( Eh tapi gw sih berharap semoga di serial TV nya Glen 'dipertahankan' Kalo di serial tv nya yang paling mengagetkan buat gw selain ending season 2 nya yang ini : http://anchaanwar.multiply.com/journal/item/532/30-Meme-TV-The-Saddest-Character-Death |
edwinlives4ever wrote on Sep 17
No
guarantee, but there is a chance for that. The deaths in TV series are
different from those in the comic series. Sofie is still alive in the
comic series, but she's dead in the second season of the TV series.
Dale is dead only after a group of cannibals ate one of his leg in the
comic series, but he's dead in Hershell's farm in the TVseries. Shane
is killed by Carl in the early part of the comic series, but in the TV
series they have to wait until the second season to kill him off.
Maybe they'll keep Glen alive. Maybe they'll make him survive the zombie apocalypse, migrate to Indonesia and become a singer. |
anchaanwar wrote on Sep 17
edwinlives4ever said
Dan ini adegan migrasinya dia
Hadehhh |
edwinlives4ever said
pagi-pagi udah dibikin ngakak di sini XD
|
anchaanwar wrote on Sep 17
Padahal gw niatnya serius loh bahas Glen --"
|
edwinlives4ever wrote on Sep 17
|
anchaanwar wrote on Sep 17
darnia said
mana sekarang gak punya tipi (habis mledug) jadinya mau brenti langganan cable
SALAHKAN OM EDWIN DANIIII!!!
DIA GAK PERNAH SERIUS!!! KENAPA TIBA2 JADI PENYANYI DI INDONESIA!!! SALAHKAN DIA!!! :))) |
anchaanwar said
DIA GAK PERNAH SERIUS!!! KENAPA TIBA2 JADI PENYANYI DI INDONESIA!!! SALAHKAN DIA!!! :)))
hahahhahaha....
cari mati yey nyalahin Oom Gagak... elu pengen di Gunkata pas lagi melek dan merem apa? *ini ngapain ya?* |
anchaanwar wrote on Sep 17
darnia said
cari mati yey nyalahin Oom Gagak... elu pengen di Gunkata pas lagi melek dan merem apa? *ini ngapain ya?*
Dia sudah dendam ma gw sejak Gw TT-in dan!
Gara2 gw, byk fansnya yang ingin dia tampil jadi hijaber, berceramah dan tetap istiqomah. Katanya jauh lebih cocok *ninja* |
anchaanwar said
Gara2 gw, byk fansnya yang ingin dia tampil jadi hijaber, berceramah dan tetap istiqomah. Katanya jauh lebih cocok *ninja*
huwahahahhahahahhaahhah...
emang cakep tapi kalo dikasih jilbab.... enggak keliatan bang Yos-nya :D |
anchaanwar wrote on Sep 17
Kemaren kan jilbabnya warna hijau ya...
Coba pink #eh |
tintin1868 wrote on Sep 18
huuaaahhh yang bener?
|
edwinlives4ever wrote on Sep 18
In the comic series, yes. Maggie is pregnant with his child and Glen didn't live to see the birth of their baby.
|
edwinlives4ever wrote on Sep 17
Not yet.
|
anchaanwar wrote on Sep 17
Gw keknya ada yang 1-3, tapi nanti gw cek lagi kali aja sudah gw hapus :D
|
m4s0k3 said
kalo
pas Alice berantem sama zombie (yang ada Mika Nakashima-nya ituuuh
\(^O^)/) di Tokyo ngingetin gw sama gaya bertarungnya Black Widow di
Iron Man 2 :D
Mana bajunya sama-sama itemnya hahahhaha Iyaaa....Ada Wong enggak pentiiing. Dateng cuma buat ketangkep doang XD |
edwinlives4ever wrote on Sep 17
![]() |
anchaanwar wrote on Sep 17
Gw ga pernah tamat main gamenya. Selalu stress dengan kaget2annya :((
Apalagi yang Resident Evil 4 - Wii edition. Setresss... kelojotan mulu gw. Pas pemainnya balik badan sudah ada zombie yang siap nerkam!!! |
anchaanwar said
Apalagi yang Resident Evil 4 - Wii edition. Setresss... kelojotan mulu gw. Pas pemainnya balik badan sudah ada zombie yang siap nerkam!!!
huahahhahahahhahahah
gw gak suka maen game gw suka NONTON orang maen game :D |
anchaanwar wrote on Sep 18
Wong kosong nyaring bunyinya.
Sekian :) |
Langganan:
Postingan (Atom)












